Istana Siak

Istana Siak (Istana Asserayah Al Hasyimiah)

Istana Asserayah Al Hasyimiah atau disebut juga “Istana Matahari Timur” (vande morte) terletak tepat di jantung ibu kota Kabupaten Siak. Istana Siak dulunya merupakan kediaman resmi Sultan Siak yang mulai dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Siak ke XI yang bergelar Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (1889-1908 M).

Istana siak adalah bukti sejarah kebesaran kerajaan Melayu islam yang terbesar di daerah Riau. Masa jaya Siak berawal dari abad ke 16 sampai dengan abad ke 20 dan silsilah sultan-sultan kerajaan Siak di mulai pada tahun 1723-1946 M dengan 12 sultan yang bertahta.

Keindahan Istana Asserayah Al Hasyimiah terlihat dari bangunan yang yang dirancang arsitek dari Jerman dengan mengadopsi gaya arsitek Eropa, India dan Arab dengan perpaduan Melayu tradisional. Kompleks istana ini memiliki luas sekitar 32.000 meter persegi yang terdiri dari 4 istana yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana Baroe.

Istana Siak sendiri memiliki luas 1.000 meter persegi. Bangunannya terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang: Ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, satu ruangan di samping kanan adalah ruang sidang kerajaan, juga digunakan untuk ruang pesta. Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, berfungsi untuk istirahat Sultan serta para tamu istana. Di puncak bangunan terdapat patung burung elang menyambar dengan mata yang memancar tajam yang terbuat dari perunggu sebagai lambang kebesaran, keberanian serta kemegahan Kerajaan Siak. Sementara pada halaman istana masih terawat dengan baik meriam yang menyebar ke berbagai sisi-sisi halaman istana, di sebelah kiri belakang istana terdapat bangunan kecil yang dahulunya digunakan sebagai penjara sementara.

Istana yang dijuluki sebagai “Istana Matahari Timur” hingga saat ini masih kokoh berdiri sebagai simbol kejayaan masa silam kerajaan melayu di Indonesia.

Komet

Komet

Satu dari beberapa benda klasik bersejarah peninggalan kesultanan siak. Salah satunya terdapat alat musik semacam gramofon yang dinamakan “Komet”. Alat musik yang dibuat pada tahun 1800-an di Jerman ini hanya ada dua didunia yakni di Siak dan di negara asalnya Jerman. Namun dari data wikipedia menyebutkan gramofon Komet yang ada di Jerman sudah rusak. Sehingga, gramofon yang ada di Istana Siak tinggal satu-satunya yang masih bisa berfungsi di dunia.

Komet yang ada di istana Siak dibawa oleh sultan Siak ke XI yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (Sultan Syarif Hasyim) sewaktu lawatan beliau ke Jerman pada tahun 1896.

Berbeda dengan piringan hitam, piringan komet berbahan tembaga dengan garis tengah 1 m terbuat dari bahan kuningan (pelat kuningan) yang beratnya mencapai 5 kg, tinggi alat musik ini mencapai 3 meter dan lebar sekitar 90 cm. Dari piringan baja inilah suara yang indah dan merdu alunan musik instrumen klasik dari komponis terkenal Ludwig van Beethoven, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Richard Strauss dapat didengarkan.

Kapal Api Kato

Kapal Kato

“Kapal Kato” masyarakat siak menyebutnya, merupakan kapal besi dengan berbahan bakar batubara yang dimiliki oleh Sultan Siak sebagai sarana transportasi saat berkunjung ke daerah-daerah kekuasaannya. Kapal ini memiliki panjang 12 m dengan berat 15 ton. Saat ini Kapal Kato dipajangkan dikompleks Istana Siak yang merupakan bagian dari monumen bersejarah yang dapat dikenang oleh generasi mendatang.

(Sumber: Dinas Pariwisata Siak)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *